Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan

Jumat, 30 Oktober 2015

Bunyi jam

Klik klok
Dentum suara
Terdengar keras diantara hening
Malam kian sepi
Hati mulai jadi
Rindu berselimut doa
Aku mendoakanmu
Semoga juga sebaliknya
Jarumnya berputar dan seterusnya
Tidak bisa terhenti
Kekuatan paling kuat yang pernah ada
Ia tak terkalahkan
Dan selalu bersautan dengan suara cicak
Terus menginjak dalam pijak
Melangkah pasti
Tujuan telah benderang
Perang memutar
Berotasi mengikuti irama sang alam
Walau rima tak beraturan
Diksi hanya berantakan
Aku ingat
Bahwa menulis, menulislah saja
Suara jam dinding terus berbunyi
Acuh, aku mengasuh harap
Urusan, aku halus dalam tindakan
Rapatkan, karena aku cepat dalam pemikiran
Ku tak peduli orang
Kau hanya seorang
Bagi diri terus pandang
Kau cahaya bintang
Bagiku juga pengharapan

Oleh: tambara boyack, 20 yo.

Sabtu, 24 Oktober 2015

Panjang Tangan

      Cukup jauh, iya lumayan jauh walau tidak sejauh jika aku berada di bulan dan kamu masih di bumi. Aku pergi bukan untuk meninggalkanmu sendiri disitu. Kita masih seperti dulu, El. Mencintaimu adalah sebuah berkat tuhan begitu nikmat. Pantas saja aku selalu merindukanmu. Aku sangat beruntung bisa dengan kamu. Kamu menerimaku apa adanya, bukan sebaliknya. Kepalaku seolah membesar, hampir meledak. Pada setiap langkahku, aku selalu memikirkanmu. Tapi, mengeluh karena jauh darimu adalah sia-sia. Aku jauh demi kita juga, demi masa depan kita. Tidak hanya berjuang buat aku seorang, buat kamu juga sayang. Aku disini terus berdoa, agar kita bisa satu melestarikan umat kita. Hidup bersama lalu berkembang bersama.
      Istilah bahwa besar gajah dihadapan tidak nampak, tapi besar semut nan jauh disana nyata terlihat benar adanya. Disini banyak yang cantik, tapi siapa yang bisa ngalahin kamu? Jawabannya tidak ada. Sejauh kakiku melangkah, kamu tetap berada dalam dekapku.
      El, aku tidak tahu batas kerinduan ini seperti apa. Tapi temenku pernah bilang bahwa rindu itu tak berbatas. Suatu saat aku pasti menjemputmu dengan indah. Pada sebuah batas dimana kita bisa mencurahkan semua yang terpendam pada diri kita untuk dijadikan satu. Andai aku panjang tangan, akan kupeluk erat dirimu sekarang.

Oleh: Tambara Boyak, 20 thn.

Selasa, 20 Oktober 2015

Sebuah nyala

Satu titik remang
Diantara gelap nan panjang
Ditemui sebuah terang
Nyala tak hilang
Asa
Jalan tertuju pada rasa
Bukan lain hanya itu jua
Kini mimpi harus nyata
Peluh batib merasa
Sikap keadaan
Rindu dekapan
Merdu bukan nyanyian
Analogi jiwa dan pemikiran
Bukan namamu terngiang
Wajahmu membayang
kisah kita terkenang
Aku kamu sayang
Aku disini
Sebuah tempat bernama bekasi
Padat beraksi
Sana jajaki
Sini reaksi
Satu dua tiga
Mari berlomba
Dalam asa
Terus berdoa
Pada sebuah nyala

Oleh: Tambara Boyack, 20 yo.

Selasa, 08 September 2015

Aku merindukanmu, sha.

Sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika aku masih jadi ingusan. Mungkin aku pernah mengisahkan cinta pertamaku kepada seorang anak ingusan beda sekolah tapi satu lingkungan. Ya, kisah itu terjadi ketika aku belum mengerti tentang apa itu yang namanya cinta. Kini, aku sadar bahwa cinta sejati adalah cinta apa adanya seperti kala itu.
Aku melihatmu di sudut berlainan ketika kamu sedang bermain lompat tali dengan teman lainnya. Rambutmu dikepang menyerupai ekor kuda dan kamu lincah lompat sana-sini. Kalo mengingat kisah itu, aku ingin menjadi kecil kembali.
Lalu, kamu dulu adalah orang yang pertama kali memberiku selamat ketika aku menjuarai sebuah lomba antar siswa sd. Kamu tersenyum kepadaku, memperlihatkan barisan gigi susu bergingsul kepadaku sesaat setelah pengumuman itu. Kamu mendekatiku lalu berkata, "Hebat!" Dan seketika tubuhku mengecil saat ini lalu mencari-cari dimanakah dirimu berada?
Ingat gak, momen lucu ketika kita kagok satu sama lain? Waktu itu pendaftaran siswa smp. Kedua ayah kita ngobrol dan aku dipangku ayahku terus kamu ada disamping ayahmu lalu kamu hanya menertawaiku yang tidak bisa apa-apa diatas pangkuan ayahku. Dan mungkin itulah saat terakhir kita saling bertatapan karena pada akhirnya kamu tidak diterima.
Momen ini memang terjadi 10 tahun yang lalu tepatnya. Dan kini, aku menemukanmu telah sangat berubah. Kamu telah mempunyai kehidupan baru. Memang kita tidak pernah membuat kesepakatan apapun, tapi bersamamu suatu hari nanti mungkin terlalu muluk bagiku. Aku kini bukan seorang hebat seperti yang pernah kamu katakan dulu. Dan, ketika seorang teman menyanyikan lagu dari m2m yang berjudul the day you went away aku kembali mengingatmu. Apa kabarmu sa? Aku rindu.

Jumat, 28 Agustus 2015

Mundur Perlahan

Sudah Begitu banyak pertanyaan yang aku ajukan kepada Tuhan, kupikir aku harus kembali jujur atas pertanyaan yang kusampaikan kepada Tuhan lewat doa-doaku, bahwa aku agaknya tidak sanggup atas situasi dan kondisi ini sebagai jawaban atas pertanyaan itu.  kenapa  harus takut ? bukankah kau sudah pernah melewati situasi seperti ini ? sudahlah lupakan.. 
Rasanya belum puas jika aku hanya bertanya kepada Tuhan. Aku juga harus bertanya kepadamu banyak yang ingin aku tanyakan, tapi aku takut, takut juga tidak sanggup. aku takut mendengar jawabanmu.
Saat senja, aku bercerita banyak pada Matahari yang hampir terbenam, dan aku memutuskan untuk membiarkan hatiku bertahan. tapi langkah untuk memperjuangkanmu mundur perlahan.
Kupikir semua sudah terjawab, tanpa aku harus bertanya kepada Tuhan dan kepada dirimu, aku bisa merasakan jawabannya. biarlah setidaknya aku pernah merasakan kemerdekaanku bersamamu. Jika nantinya kamu membaca ini? apa yang akan kamu katakan? jangan mengiba, aku tahu.
Aku berharap setelah ini kita tampil seperti biasa, seperti yang sering kau katakan bahwa aku hanyalah seorang teman.Mungkin sebaiknya aku menjalani ini, kita cukup berteman saja.
Terimakasihku padamu, kau mampu berikanku kekuatan, berikanku harapan namun walau tidak dengan keyakinan. Setidaknya aku perlu sebuah ketegasan untuk kebersamaan. tapi cukup, aku sudah merasakan hal yang berbeda saat bersamamu, aku tak ingin berharap terlalu jauh karena aku tau kau tak menginginkan rasaku ini juga terlalu jauh. Dan aku sadar, kau tidak akan pernah mampu memohon, meminta dariku menjalani semua ini denganmu.
ah.. Kepalaku selalu berfikir menggunakan pola tapi yang namanya hati selalu punya aturan sendiri bukan? Karena secerdas-cerdasnya otak tidak mungkin bisa dipakai untuk mengerti, maka aku akan mulai mendengarkan kata hatiku,  aku dan kau sadar bahwa  hati tak pernah memilih tapi dipilih, karena hati tidak perlu memilih, hati selalu tahu kemana harus berlabuh. Mungkin hatiku tidak dipilih dan hatiku tidak berlabuh padamu maka aku harus mundur perlahan.
Aku bisa saja memintamu, namun Jika aku yg harus meminta itu bukan lagi jadi ketulusan kebersamaan, tapi hanya akan jadi keterikatan karena satu permintaan.
kita harus sadar  hidup ini sudah diatur, kita hanya tinggal melangkah. Sebingung dan sesakit apapun semua sudah disiapkan bagi kita. Kita tinggal merasakan saja dan kita pasti tahu jawabanya begitu juga denganmu. Apakah kamu untukku atau untuk orang lain karena pada akhirnya tidak ada yang bisa memaksa tidak juga dengan janji atau kesetiaan. maaf untuk sebuah perasaan yang terlanjur timbul..
Tenang saja Aku sudah siap mundur, itu artinya aku akan sedikit menjauh, tapi aku yakin, kamu tak akan pernah lupa kalo kita pernah sedekat ini.
Untuk kamu yang ingin selalu melaju kedepan, aku sudah lelah mengejar hatimu. Cukup aku menjaga jarak aman dengan perlahan memindah gigi perseneling ke gigi R. Reverse semua sejarahku, dan melupakan bahwa dulu kita pernah menjadi sepasang kekasih. Aku akan tetap melihatmu di jarak ini. Menunggu rindu hingga suatu saat kau pasti akan melampiaskan rindumu kepadaku, iya kan?

Oleh: Tambara Boyack, 20 tahun.

Sabtu, 22 Agustus 2015

Tsunami

Aku terbangun
Aku terbangun oleh mimpi buruk. Dalam mimpi itu aku berlari tanpa tujuan. Aku diantara ular-ular yang berjatuhan banyak sekali dari langit. Aku terus saja berlari tanpa arah asal terhindar dari ular yang terus saja berjatuhan dari langit. Seolah aku tidak punya lelah, berbagai medan aku tempuh hingga pada akhirnya aku menemukan sebuah panah. Panah aku tembakkan kearah langit dan bam!!! Terjadilah sebuah ledakan maha dahsyat. Ledakan itu berasal dari dua gunung berapi. Keduanya seperti berperang meletupkan api dari kawah masing-masing. Aku terbengong dan seketika daratanku berubah menjadi api. Aku menginjak api tapi tidak panas. Aku berjalan menyusuri api menuju kearah terbitnya matahari. Tapi apa yang kudapati pada arah tersebut? Sebuah perwujudan bulan turun dari langit besar sekali ada dihadapanku. Aku memandangi bulan tersebut lalu tiba-tiba, seorang wanita berjubah putih dengan air mengalir di kakinya mendekatiku. Aku seperti terlempar ke dimensi lain dan lalu berbincang berdua dengannya. Entah siapa dia entah apa yang kami obrolkan dia lalu menghilang diantara lonceng-lonceng besar di hadapan kami. Suasana menjadi hening, sekitaranku berubah menjadi kabut dan aku melamun panjang. Gelegar petir di alam mimpi membuatku bangun dengan payah dari tidur. Mukaku kucel, dadaku berdebar. Apa yang barusan aku impikan?
Aku menyeduh teh
Setelah membalas senyum darimu melalui pesan singkat, aku lalu beranjak menuju dapur. Aku ambil teh dan gula lalu aku racik pada sebuah gelas dengan air panas cukup untuk melarutkan teh dan gula. Aku bawa teh ke teras yang menghadap mentari. Aku baca buku novel penghantar imaji ke dunia lain. Sesekali aku balas pesan yang masuk melalui pesan singkat dari siapapun yang masuk. Dan hanya dalam waktu singkat aku berhasil masuk ke dalam dunia lain. Aku melihat sosokmu itu berada disampingku samar-samar. Kita hanya berdua di dunia ini. Menikmati berbagai keindahan yang disajikan dunia. Disaksikan ranumnya matahari pukul enam kita bercumbu dan saling menikmati rasa di sebuah tepian padang rumput. Kau begitu indah. Kau seperti tsunami dengan hantaman-hantaman rasa mengasihi tanpa kenal ampun. Menerjang seluruh pertahananku yang terbuat dari batu karang keras. Kau hancurkan aku, aku leburkan aku, kau luluhkan aku dan kau larutkan aku ke dalam alam bawah sadarmu. Betapa payahnya aku berada di hadapan seorang engkau yang diandaikan tidak kalah wangi dari sekar melati, tidak kalah indah dari bunga tulip dan tidak kalah eksotis dari merahnya mawar. Aku berkali-kali memujamu sebagai dewi sarasvati. Bayanganmu tak mau beranjak hingga sebuah suara memecah keheningan pagi, "Boyak kamarmu diberesin dulu!!!!"

Oleh: Tambara Boyack, 20 tahun.

Pada sebuah prosa

Menginjak pada sebuah peraduan. Aku berpikir aku adalah sempurna. Aku merasa aku adalah seorang diatas puncak. Melihat sinar sang mentari mengisi setiap dimensi terkecil si mayapada. Dia tidak lelah terus bersinar hingga tenggelam dibalik dua gunung kokoh. Tapi, aku tidak akan berimaji tentang senja yang sering dilagukan oleh para pemula dengan seenak mereka sendiri. Bahwa dinginnya malam menandakan bintang akan muncul satu-satu seperti taburan bubuk yang bersinar. Bintang adalah sebuah fatamorgana nyata dari kehidupan. Bintang terlihat sangatlah kecil dibandingkan kita jika dilihat dari daratan eridu. Bintang hanyalah sebuah titik kecil jika dibandingkan matahari yang tidak bisa kita lihat ketika temaram datang. Bintang berjumlah tak terjumlahkan oleh otak manusia yang terbatas oleh rasional dunia tanpa bisa melihat secara spiritual bahwa alam ini dimiliki oleh tuhan. Bahwa tuhan adalah sang pencipta paradigma paling hebat dan tiada duanya. Tuhan adalah tuan bagi semuanya. Tuhan membuat bintang yang sebenarnya besar menjadi kecil dimata kita. Kita sebagai penghuni bumi hanyalah sebagian kecil dari alam jika dibandingkan bintang bertaburan diangkasa. Entah seberapa maha besar aku tidak bisa membayangkan. Terima kasih aku telah engkau ciptakan diantara makhlukmu. Terima kasih aku telah diberi kesempatan untuk menjadi seorang perindu. Aku dan dia bagaikan matahari dan bintang, kita adalah sejenis tapi tak pernah bersatu di mata dunia. Aku dan dia selalu memendam seonggok rindu berbatas dua bongkah gunung begitu kokoh. Aku dan dia adalah protozoa bersel satu pada masa lalu namun terpisah kemudian. Kita adalah dikotomi sebenarnya, dua orang perindu tanpa bisa mengungkap kata. Bahwa dalam kata tidak pernah menggambarkan sesuatu, tapi dalam diam itulah gambaran kita sebenarnya berada. Sempurna sudah petualangan kita mendaki gunung penuh api asmara, aku harus jatuh menuju bagian terdalam sebelum kita mencapai puncak kebersamaan abadi. Aku telah gagal menjadi seorang pecintamu. Aku gagal memilikimu seperti elang yang hanya mendapatkan sebongkah batu. Padahal elang tidak pernah salah dalam membidik sasarannya. Tapi aku adalah contoh elang yang takluk oleh seekor babi. Babi terus menunduk entah apa yang ia cari. Namun babi selalu mendapatkan segala sesuatu tanpa ia bersusah payah. Tiada orang melarang seberapa baunya jika ia buang air. Mungkin dia haram di mata agama karena kebauannya itu, ia juga sering menjadi buruan bagi para penikmat nafsu tembakan. Begitulah tuhan mempermainkan makhluk ciptaannya dengan sangat sempurna. Kini aku lelah setelah doping telah habis. Mungkin setelah kita bereinkarnasi, kita mampu menjadi sebuah malam yang dipenuhi bintang.

Oleh; Tambara Boyack, 20 tahun.

Kamis, 20 Agustus 2015

Cerita diantara kita

Pas aku nulis tulisan ini aku juga lagi dengerin lagu dengan judul yang sama dari sebuah band bernama midnight quickie. Aku jadi terbayang kembali bagaimana aku dulu pernah punya cerita indah bersama seseorang. Dia sekarang dimana ya?
Tapi pada lagu ini, inti ceritanya kita harus bisa melupakan cerita diantara kita. Tapi jujur, aku sangat tidak bisa melupakanmu. Berbagai kenangan yang kita lewati tidak semestinya dilupakan. Semua kenangan memang harus tersimpan rapi sebagai bagian dari jalan hidup kita.
Ingatkah? Bahwa dulu kita sama-sama suka dengan bunga tulip? Dan aku harus menggambar bertumpuk-tumpuk bunga tulip buat kamu, membuat origami bunga tulip buat kamu yang begitu sulit. Masihkah semua itu kau simpan?
Kita dulu saling menyayangi, hingga suatu saat aku harus inap di sebuah klinik kau jauh-jauh dari rumahmu dibalik gunung itu buat ngebawain aku sebuah rasa cinta? Kita hanya terhalang oleh satu penghalang besar dan signifikan. Aku seorang muslim walau tidak terlalu taat dan kau seorang non. Aku tahu ini adalah satu jurang perbedaan yang menakutkan. Aku takut bahwa kita tidak bisa bersama dan akhirnya itu terjadi. Kita berkesudahan untuk menggapai angan kita dan akhirnya aku hancur. Kelemahanku pada patah hati, kelemahanku yang membuat aku berantakan. Kamu tahu ga? Bahwa aku masih mengharapkanmu. Tapi melompati jurang mempunyai resiko terjatuh lalu mati. Aku tidak rela mati muda, karena mati muda berarti aku tidak bisa melihatmu. Dengan jarak sekian, aku lebih memilih mengamatimu dan melihatmu bahagia. Masih melihatmu dalam keadaan sempurna membuat aku juga berbahagia.
Kini, aku belum mau untuk mengubah hatiku.

Oleh: Tambara Boyack, 20 tahun.

Minggu, 16 Agustus 2015

Merdeka

Aku pikir hidup adalah sebuah proses berulang yang tiada hentinya sampai maut memutuskan lingkaran perjalanan hidup.Tiada seorangpun dapat memperkirakan apa yang akan terjadi pada esok. Seperti sebuah puzzle, aku berusaha untuk menyatukan potongan-potongan gambar hingga menjadi gambar yang utuh. Tak jarang aku mengalami kesulitan, tak kutemukan potongan yang sesuai dengan yang sudah sempat ku rangkai. Tak jarang aku lelah dan ingin mengakhiri permainan.

 

Hidup.....aku tak pernah menemukan arti sebenarnya. Mungkin dapat ku katakan hidup adalah perjalanan menuju kematian. Ketika aku percaya surga dan neraka ada maka perjalanan menuju kematianku penuh dengan pencarian apa yang disebut kebaikan-kebaikan dan pencitraan diri. Namun jika sekali waktu aku tak mempercayainya, maka aku berjalan sesuka hatiku, menunggu sampai ajal tiba.

 

Hidup...aku pikir ia hanya kiasan dari proses segala rasa dan pengalaman pahit manisnya cerita seseorang. Kala aku berharap bahagia maka aku tetap tak bahagia. Kala aku berharap kebaikan maka kejahatanlah yang menghampiri. Kala aku berharap kesenangan maka keburukanlah yang hadir. Kecewa, senang, terluka, damai, cinta, kemarahan, dan sebagainya adalah ekspresi yang tidak pernah kenal usia. Mereka dapat tercipta atau terkubur semua tergantung bagaimana penggeraknya mengendalikan. Tapi begini kata orang, "NASIB!"......"BEGINILAH HIDUP"...."AH MANA BISA BERUBAH"...

 

Aku setidaknya merasa bahwa hidup harusnya aku kendalikan bukan aku dikendalikan oleh hidup. Bahagia adalah ketika aku merasa bahagia bukan karena apa atau siapa di sekelilingku. MERDEKA!!! aku ingin berteriak pada dunia "MERDEKA!"....

 

Ku pikir hidup terindah bagiku adalah hidup di dalam kemerdekaan. Aku mencari tiap potongan gambar dan berjuang untuk merangkainya menjadi satu gambar yang utuh. aku menikmati setiap jeda waktu, menikmati setiap ekpresi terhadap keadaan yang lahir, dan aku tetap punya semangat dan sukacita yang tidak pernah mati oleh semuanya. Kemerdekaan membuat aku bebas terbang, melihat dunia bukan dari kacamata perasaan dan pikiran saja, namun lebih dari semua itu jauh sampai aku mendapatkan rema apa sesungguhnya hidup dan bagaimana mencapai kemerdekaan.

 

aku memilih merdeka karena aku ingin hidup di dalam kemerdekaan...MERDEKA! 

Cinta yang tak akan pernah mati

    Pagi di hari Minggu selepas Subuh aku pergi lari pagi ke taman kota. Sudah lama aku tak berolahraga, mengingat pola hidupku yang berantakan, bekerja selama berjam-jam hanya dengan posisi duduk di depan komputer. Cukup lima keliling lapangan mataku sudah berkunang-kunang, buah betis rasanya menegang tak karuan dan tubuh telah lumer menjadi keringat menembus jaket yang aku kenakan. Aku istirahat, duduk di bangku taman dan mulai membuka novel yang belum selesai kubaca.

    Di tengah asyiknya membaca, perhatianku dialihkan oleh seorang pria tua kira-kira berumur 60 tahunan dan wanita muda disampingnya kira-kira berumur 25 tahun jika dilihat dari garis wajahnya yang belum banyak mengerut, bisa saja tampilan mengelabui usia mengingat teknologi perawatan tubuh kini semakin canggih tetapi aku yakin wanita itu masih belia. Pria tua itu tampak seperti bapaknya atau mungkin hampir seperti kakeknya, tetapi tak ada kemiripan di raut wajah mereka. Perut wanita muda itu besar, tampaknya sedang mengandung. Seperti anak muda pada umumnya si wanita muda itu berjalan sambil memainkan gadget dan si pria tua sesekali melirik apa yang dimainkan si wanita muda di gadgetnya.

    “Ayo duduk dulu.” kata si wanita muda mengajak untuk istirahat sejenak. Wanita muda itu duduk di bangku taman kemudian si pria tua pergi ke pedagang asongan. Ia memesan kopi dan susu; kopi untuknya dan susu untuk wanita yang bersamanya.

    “Harus terus diajak jalan-jalan biar bayinya sehat.” ujar pria tua sambil meletakkan susu di pinggir si wanita muda.

    “Iya, tapi makin kesini makin terasa tendangan si orok, jadi takut.”

    “Lah, wajar kamu takut. Kan ini yang pertama, nanti yang kedua dan seterusnya pasti terbiasa.” kata pria tua sambil tertawa kecil.

    “Ini juga belum, jangan dulu buat rencana lagi deh.” Balas si wanita muda sambil memainkan bola matanya yang menurutku sangat indah; seperti dua buah gundu yang baru dibeli. Bibirnya yang ranum menyentuh tepi gelas plastik—menyeruput susu panas.

    Aku mengamati mereka dari bangku sebelah; setiap ucap dan geriknya. Entah aku merasa iri atau penasaran dengan mereka. Dugaanku mereka memang sepasang suami-istri, tentunya dengan pertimbangan-pertimbangan berdasarkan pengamatanku.

    Wanita muda itu cantik sekali. Kulitnya putih bersih, senyumnya jarang terbentuk tiba-tiba, tetapi melalui proses yang sangat aku suka—susah diungkapkan. Pria tua itu tampak sederhana dengan jaket jeans dan celana jeans. Nampaknya bukan pria tua yang kaya, ia sederhana. Kebahagiaan mereka terpancar dari ekspresi mereka ketika bercakap-cakap. Si pria tua sesekali menyuapi si wanita muda makan roti yang di celup ke kopi miliknya.

    Sebelum di bangku yang sekarang aku duduki, terlebih dahulu duduk di bangku yang mereka tempati sekarang. Karena bau pesing maka aku pindah ke bangku sebelah, pikirku tak akan cocok menikmati udara pagi sambil membaca cerita serius karya Ahmad Tohari sementara bau pesing lewat dan masuk lubang ciumku tanpa permisi, sungguh kacau. Pagi ini bangku-bangku taman memang banyak yang kosong, tak seperti malam di akhir pekan—pemuda-pemudi komunitas motor biasanya memadati taman ini.

    Mereka menikmati pagi ini dengan halus, tanpa terburu-buru. Sesekali melihat-lihat taman dibelakangnya yang baru saja selesai dibangun oleh pemerintah kota. Konsep taman yang tidak terlalu bagus tentunya. Tetapi masih bagus daripada lahan itu hanya tumbuh tanaman-tanaman liar yang tidak terawat serta banyak pramunikmat yang mangkal disana seperti sebelum lahan itu dialihfungsikan menjadi taman kota. Aku lihat si wanita muda terus mengamati anak-anak yang bermain perosotan di taman itu. Dari sorot matanya yang terhalang oleh kacamata tampaknya ia sedang suka-sukanya pada anak-anak dan dunianya, mungkin bawaan si jabang bayi.

    “Nanti kalau sudah besar—bisa berjalan kita ajak main-main disini, main perosotan main pasir, main ayunan, pasti dia senang. Kita bisa memantaunya dari pinggir taman sambil minum kopi atau susu. Ah, umur tidak terasa, masa bujangku yang panjang ternyata dipotong sama kamu Neng. Entah kelak aku masih bisa melihat anak kita tamat sekolah atau tidak.” ujar si pria tua menyela keasyikan si wanita muda.

    “Dasar bujang lapuk!” balas si wanita muda sambil mengelus manja pipi si pria tua dan mereka pun tertawa kecil.

    Sudah kuduga bahwa mereka sepasang suami-istri. Dengan pandangan yang kosong, pria tua lalu mengelus perut istrinya yang muda dan cantik. Usia yang semakin senja terus meneropongnya dari kejauhan, entahlah usia tak bisa disangka—kadang ia memutuskan berlanjut atau berhenti tiba-tiba tanpa kompromi dan tampaknya si pria tua sedang memikirkan masa depannya, istri dan anaknya.

    Ditengah kemesraan mereka tiba-tiba bola plastik kecil mengenai perut busung si wanita muda.

    “Ambil-ambil!” celoteh sekelompok anak kecil yang tak sengaja menerbangkan bola itu tepat di perut si wanita muda. Si wanita muda merogoh bola plastik itu yang jatuh di bawah bangkunya, ia memberikan bola itu ke anak perempuan yang menghampirinya hendak mengambil bola itu.

    “Ini, lain kali hati-hati yah.” kata si wanita muda dengan rautnya yang keibuan dan halus.

    “Iya teteh.” balas si anak perempuan.

    Si pria tua hanya memandang dengan senyum di wajahnya. “Kamu mau perempuan atau lelaki, tampaknya kamu pengen perempuan?” kata pria tua.

    “Ah, sama saja. Hanya saja Neng lagi suka sama anak perempuan, Kang. Sepertinya Neng pengen anak pertama kita perempuan saja supaya nanti bisa temani Neng kalau bapaknya sedang kerja.”

    “Lelaki juga kan bisa, Neng.”

    “Iya, tapi beda. Buat anak pertama perempuan saja dulu. Nah, yang kedua baru laki-laki.”

    “Alah, tadi kata kamu jangan dulu bikin rencana?” kata pria tua sambil mencubit pelan pipi istrinya.

    “Neng ralat kalimat itu.” ujar si wanita muda dengan genitnya.

    Pagi ini aku seperti sedang menonton kisah-kisah romantis dalam fiksi. Tetapi ini lebih indah dari fiksi dan lebih sendu jika direnungkan olehku sendiri. Sebab sampai saat ini tak ada ikhtiar dariku untuk meminang seorang perempuan; karena kesibukan kerja dan lain sebagainya sehingga kalau urusan asmara ya mengalir saja. Dalam situasi seperti ini cinta memang buta, tetapi tidak dalam situasi sepertiku. Cinta menjadi sesuatu yang awas dan terjaga, kemanapun pecinta berdiam menunggu takdirnya.

    Mereka beranjak pergi setelah pria tua mengangkat telepon dari seseorang. Mereka bergegas menghabiskan minumannya. Si pria tua membantu istrinya beranjak dan menuruni trotoar taman. Aku hanya bisa memandanginya sampai habis tikungan dan kisahnya tentu akan aku renungkan.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Menuju ufuk

Karena sudah terlalu lama menunggu dan lelah, pagi itu kamu mengajakku berjalan ke timur.
Terus ke timur. Jauh. Ke arah terbit matahari.
Entah kemana tujuannya kamu pun tidak tahu. Tapi kita tahu, arah ini, menuju tempat terbit matahari. Matahari memang tidak punya tempat terbit seperti yang digambarkan anak-anak ketika pelajaran menggambar di SD, tapi kamu yakin bahwa arah ini akan mempertemukanmu dengan hal-hal lain yang tidak pernah kita tahu karena selama ini kita hanya diam. Menunggu.
Setelah beberapa lama berjalan, aku tahu bahwa kamu mengajakku berjalan ke arah ini bukan tanpa pertimbangan. Kamu mengajakku berjalan menantang matahari. Sejak pagi sampai siang, matahari akan ada di depan kita. Seperti mata raksasa yang menatap tanpa jeda. Kita terpaksa balik menatapnya karena kita nyaris tidak punya pilihan lain. Kamu menyarankan agar aku menutup mata sambil berjalan—toh kamu akan selalu menggandeng tanganku sehingga aku tidak akan tersandung dan jatuh–tapi aku menolak. Kalau perjalanan ini adalah perjalanan menentang matahari, maka kita akan menentangnya. Kita akan menantang cahayanya yang makin siang makin terik itu. Kita akan menatapnya. Dengan berani. Tidak menunduk. Tidak memicing.
Bahwa setelah siang kita tidak akan melihat matahari, itu adalah cerita lain lagi karena dia tetap mencecar cahaya di punggung kita.
Pernah sekali aku mengajakmu memutar tujuan ke arah barat, tapi kamu menolak.
“Kita tidak akan mengejar apa-apa yang akan terbenam,” katamu. “Kita akan menuju arah di mana dia mulai terbit dan meninggi. Bukan ke arah dia terlihat makin jatuh dan hilang oleh malam.”
Sambil berjalan, aku membayangkan bahwa bila tempat terbit matahari itu memang ada, tentulah akhir perjalanan ini adalah dua buah gunung yang di belakangnya (mungkin) dipan untuk matahari tidur. Kita hanya perlu menaiki gunung itu untuk kemudian membuka rahasia kehidupan matahari di waktu malam. Mungkin dia tidak benar-benar tidur seperti yang aku pikirkan sewaktu kecil dulu. Dia bisa saja membaca buku atau bermain dengan teman-teman matahari lainnya yang menyinari bumi yang lainnya juga. Pemikiran sangat sederhana dari anak yang belum diajarkan astronomi.
Sepanjang perjalanan ini, selama matahari ada di depan kita, kita tidak pernah melihat bayang-bayang. Lalu, setelah siang, bayang-bayang itu muncul, semakin panjang dan semakin panjang. Seolah ingin menegaskan bahwa matahari pun semakin menjauh turun.
Aku tidak suka bayang-bayang. Itu menegaskan kalau aku adalah benda yang tidak tembus cahaya. Tidak seperti embun atau tetes air hujan yang menembuskan cahaya matahari dan membiaskannya menjadi pelangi.
Ketika bayang-bayang itu sampai pada titiknya yang terpanjang, tak lama kemudian dia hilang. Malam pun datang.
Kita tidak berjalan di saat malam karena mudah tersesat. Kita berhenti. Kita beristirahat. Kita membicarakan perjalanan hari ini dengan wajah lelah, kaki pegal, kulit yang makin lama makin menghitam.
Tapi kita akan terus berjalan ke sana. Terus ke timur. Jauh. Ke arah terbit matahari.
Karena kita memang harus berjalan. Menghabiskan hidup dengan melangkahkan kaki ke arah yang kita sudah kita putuskan.
Kita mungkin terlalu berani. Dari sekian banyak arah, kita memilih menentang matahari. Tapi itulah satu-satunya arah yang menjanjikan pemandangan tentang harapan setiap pagi. Kita melihat matahari terbit, kita tidak pernah melihatnya tenggelam. Kita akan membisikkan do’a tentang rindu, harap, dan cemas setiap hari sebelum dia terjaga. Agar tidak ada yang mencuri-dengar kecuali Dia yang lebih dekat dari urat leher kita.
Jadi, kita akan terus berjalan. Ke sana. Terus ke timur. Jauh. Ke arah matahari terbit.

Terbangun dalam malam rindu

lagi dan lagi saya terbangun
malam dan setiap malam bukanlah waktu yang tepat bagi saya terlelap lama
satu, dua jam mungkin waktu bersama mimpi
hanya jika lelah sangat memeluk hingga tak bergerak saya terlelap lama

berselimut dengan semi kematian
mati, namun masih bernafas... mayat hidup
bergelut waktu menuju detik-detik nafas akhir
hingga saya terbangun, saya belum menjadi tubuh kaku yang terbujur dingin
saya pergi mencari tenang
berwudhu dan bersujud...

malam-Mu ini damai, saya semakin merindu-Mu
menanti ruh menghadap-Mu,
Engkau adalah Sang Maha Rindu, Yang Maha Mengetahui segala seluk beluk hati saya
Engkau adalah Sang Maha Cinta, menghanyutkan damai dalam sepoi angin yang menerpa saya
tanpa-Mu saya hanya ruh yang dibungkus kotoran dan menjadi mayat hidup

terkadang jiwa ini meraung-raung, entah tersesat atau apa dalam bingung
mendekap rasa perih sebagai karib, lalu lagi saya mencari-Mu dalam sujud
mengingat-Mu dan menjinakkan rasa sepi dalam teriakan hampa yang perih
menangis dan berlari pada-Mu, mencari ruang lalu lepaskan sesak yang menghantam keras
lalu apa saya tanpa-Mu?

merindu-Mu dan berarti saya merindu mati
jalan yang indah menuju-Mu
saya bersujud lama, mengucapkan indah do'a malam ini...

Jumat, 14 Agustus 2015

Kata, asa, kamu dan perpisahan kita.

Kamu pikir semua perpisahan yang sakit ini hanya mimpi buruk akibat lupa membaca doa sebelum tidur, yang ketika kamu terbangun, semuanya akan hilang dalam ingatan. Tapi ternyata tidak, ini masih sakit yang sama. Yang jelas terasa pada setiap kali kamu menghirup udara.
Pikirmu, mungkin seseorang di sana akan senang dengan perpisahan yang dimulainya. Dan karena sedikitpun kamu tidak pernah mendapat tempat dalam hatinya, tak mengapa jika ia bangun pagi, senyumanmu tak lagi ada. Tak ada gunanya. Tak ada bedanya. Tanpamu, Ia pasti akan baik-baik saja.
Tidak sama denganmu, sayang. Tidak akan pernah sama. Rasa yang kamu pelihara sendirian. Bertahan bertahun-tahun. Yang selama itu pula kamu pikir selalu ada harapan, dan pada akhirnya terpaksa harus kau bunuh dengan mengenaskan. Hanya kamu yang kehilangan.
Tak ada lagi kelanjutan cerita yang bisa kau ukir dalam bentuk tulisan, selain perpisahan dan kesedihan. Sebab ketika semesta meminta waktunya, kamu tidak akan mampu memaksa siapa-siapa. Terlebih pada suatu hal yang untuk dapat memiliki pun, kamu tidak pada takdirnya.
Pada pagi yang berpisah,
Mungkin melepas adalah satu-satunya pilihan untuk bertahan.
Semoga kamu bahagia.

Jumat, 24 Juli 2015

Cinta dalam satu arah

        Aku, seorang muda belum terlalu dewasa dengan mimpi dan ambisi. Aku mencoba untuk menjadi pujangga tapi sayang hasil karya hanya menjadi kumpulan prosa absurd penuh ambigu malu.
         Akulah seorang cacat cinta. Menaruh hati pada gadis pujaan tanpa bisa berbuat apa-apa. Aku setia memperhatikan tanpa pernah ia ketahui. Kuncup cinta yang tidak akan pernah mekar seiring memudarnya waktu. Jika sabar adalah jalan, maka aku sudah keterlaluan dalam menunggu kesempatan itu.
         Aku bukan orang yang tahu tentang liku-liku cinta. Aku tidak pernah mahfum bagaimana cinta bisa memenuhi pada setiap sel terkecil di tubuhku atas engkau. Dalam setiap detak jantungku untuk melihatmu, aku sangat tidak mengerti kenapa aku bisa mencintai dirimu. Mungkin rasa ini hilang jika jantung ini telah senyap.
          Aku hanya bisa mencintaimu tanpa pernah kau ketahui. Memberi perhatian semu untuk mencoba lebih dekat kepadamu. Harapan indah masa depan memiliki indah tiap-tiap lekuk tubuhmu hingga akhir hayatku.
          Aku bersyukur kepada tuhan dianugerahi rasa cinta kepadamu. Aku bersyukur apapun yang terjadi karena cinta sejati tidak mengenal sesal. Karena cinta yang sempurna akan bertahan sampai nafas berhenti. Walau aku tahu, cintaku kepadamu hanya satu arah.

Created by; Tambara Boyack